Jumat, 21 Desember 2012

Berdamai Dengan Keadaan

Sunnatullah Kehidupan
       Kehidupan bagaikan roda. Senantiasa berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang bahagia, tapi kemudian cobaan membabi buta. Ibarat dua sisi mata uang logam yang saling melengkapi. Tidak ada satupun yang abadi. Itulah Sunnatullah. Sebagai orang yang beriman tentu kita tidak kaget ketika tiba-tiba Allah mendatangkan ujian-Nya. Namun lain hal-Nya dengan saudara-saudara kita yang belum memahami hakikat kehidupan ini, ujian yang datang justru akan menghempasnya dalam samudra penderitaan yang seolah tiada bertepi. Dalam menghadapi silih bergantinya kehidupan ini, manusia dibagi menjadi dua. 

            Pertama, adalah mereka manusia yang beriman. Dimana mereka senantiasa siap menghadapi ujian karena sadar bahwa dunia adalah ladang amal. Ujian yang datang bukanlah dianggap halangan, tapi sebagai sarana untuk memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, manusia yang paling tidak siap dalam menghadapi ujian Allah SWT adalah orang-orang atheis. Mereka tidak mengakui adanya Rabb di dunia ini. Tentu saja mereka tidak siap, jangankan yakin akan datangnya pertolongan Allah, keberadaan Allah sebagai pencipta dan penguasa jagad raya pun mereka tidak percaya. Tidak ada hal yang bisa mereka lakukan selain berputus asa, putus harapan yang menghantarkan kepada kebinasaan. Naudzubillah himindalik.

          Dalam kehidupan ini hendaknya kita senantiasa menyiapkan satu wadah kekecewaan dalam hati kita. Sebab tidak selamanya kehidupan ini berjalan seperti yang kita inginkan. Jendela ‘kekecewaan’ itu setidaknya membuat diri kita lebih siap menghadapi hal-hal yang tidak kita inginkan.
          Jika kita terbiasa mendapatkan kemudahan dalam banyak hal, bisa jadi ketika kesulitan itu datang kita tidak siap menghadapinya. Yang jelas optimis itu harus ada, namun sediakan satu celah untuk melapangkan hati menghadapi hal yang tidak sesuai harapan kita.

Sikap ketika ujian datang
Ketika ujian, cobaan dan masalah datang menghampiri diri kita, cobalah untuk berdamai dengannya. Yang dimaksud berdamai disini bukan berarti menyerah dengan keadaan yang ada, ‘pasrah bengkokan’ orang Jawa bilang. Akan tetapi berdamai disini adalah mencoba untuk menerima keadaan yang ada sambil terus berikhtiar mencari jalan keluar terbaik. 


Dengan penerimaan atas kondisi yang menimpa kita setidaknya akan membuat jiwa kita sedikit tenang, dan dengan ketenangan hati dan kejernihan pikiran akan lebih memudahkan bagi kita menemukan solusi. Berbeda hal-nya jika kita frontal dalam menghadapi masalah yang ada, panik kemudian tergesa-gesa. Ibaratnya energinya sudah habis sebelum berperang, ‘nabung pusing’ dulu, capek dulu padahal solusi masih jauh panggang dari arang. Bagaimana mungkin kita akan menemukan solusi masalah, jika pikirannya tidak jernih dan jiwanya mengalami kegoncangan. Pada akhirnya orang-orang seperti ini cenderung memilih lari dari masalah, pasahal sikap tersebut justru akan menambah munculnya masalah baru. Mereka tidak mampu berdamai dengan keadaan, nekat melawan keadaan bukan dengan ilmu tapi dengan hawa nafsu.

Menerima Keadaan Dengan Syukur
       Belajar dari para shalafusshalih, mereka adalah sebaik-baik teladan sosok manusia yang mampu berdamai dengan keadaan. Bagi mereka berdamai dengan keadaan dimaknai dengan mensyukuri apa yang masih mereka miliki. Ketika pun Allah menguji mereka dengan kekurangan harta, mereka masih bisa bersyukur karena masih diberi kenikmatan iman serta tubuh yang sehat, sehingga mereka masih tetap bisa beribadah. Ketika Allah menguji mereka dengan penyakit yang diderita, mereka masih saja menemukan celah rasa syukur sebab masih diberi nafas untuk berdzikir.
          Contoh yang paling nyata adalah apa yang menimpa ulama besar Ibnu Taimiyyah beliau tidak pernah lelah menghadapi ujian dalam rangka menyampaikan kebenaran. Suatu ketika penguasa yang dzalim memenjarakannya, karena tidak menyukai apa yang beliau sampaikan. Apakah kemudian beliau berputus asa, goyah pendiriannya? Ternyata justru tidak bahkan semakin lantang menyuarakan kebenaran dari balik jeruji besi. Sajaknya yang paling terkenal adalah “Apakah yang diperbuat musuh padaku. Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku. Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat. Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi. Beliau pernah berkatan dalam penjara: “Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”
          Bahkan kemudian dari balik penjara terlahirlah karya-karya besar beliau, berupa buku aqidah, tafsir dan lainnya. Artinya penjara tidak pernah menjadi penghalang bagi beliau untuk tetap tegar menyampaikan kebenaran. Meskipun dipenjara beliau bersyukur masih diberikan hidup yang dengannya bisa melahirkan banyak karya.

Kesyukuran = Kebahagiaan
       Pada hakikatnya dengan syukur itulah manusia akan menemukan kebahagiaan. Sebab hatinya lapang, jiwanya tenang sebagai efek dari mampu berdamai dengan keadaan. Banyak orang yang sibuk mencari hakikat kebahagiaan, tapi setelah mereka memperolehnya, kebahagiaan itu ternyata semu. 

           Yang perlu digaris bawahi bahwa bahagia itu bukan materi, tapi lebih ke penerimaan diri atas apa yang kita miliki. Bisa saja orang punya banyak harta tapi sebenarnya dia tidak bahagia, sebab ia masih haus dan haus untuk mencari lagi harta sehingga tidak sempat menikmati yang telah ada. Berbeda dengan mereka yang mampu menerima apa yang mereka miliki, walaupun sedikit mereka bisa menikmatinya dan kenikmatan itulah sumber dari kebahagiaann. Atau contoh lain mereka yang tidak puas dengan bentuk fisiknya, berkali-kali melakukan operasi plastik untuk mengubah hidungnya agar mancung, bibirnya agar tipis atau setidaknya membuat mereka tampak lebih muda sepuluh tahun. Mungkin untuk sesaat mereka bisa bahagia, tapi bagaimana selanjutnya? Sebab jiwa yang tidak bisa menerima keadaan dirinya, ia senantiasa tidak puas dengan yang ia miliki. Ingin dan ingin terus mengubahnya. Hakikatnya sebenarnya ia tidak bahagia, sebab ia senantiasa terobsesi untuk mengubah dirinya sesuai yang diinginkannya. Padahal Allah SWT telah menciptakan hamba-Nya dengan sebaik-baik bentuk. Kebahagiaan itu akan datang manakala manusia bisa menerima bagaimanapun penciptaannya. Dan pasti tidak ada yang sia-sia atas apa yang telah Allah berikan kepada manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar