Kehidupan
bagaikan roda. Senantiasa berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang
bahagia, tapi kemudian cobaan membabi buta. Ibarat dua sisi mata uang logam
yang saling melengkapi. Tidak ada satupun yang abadi. Itulah Sunnatullah.
Sebagai orang yang beriman tentu kita tidak kaget ketika tiba-tiba Allah
mendatangkan ujian-Nya. Namun lain hal-Nya dengan saudara-saudara kita yang
belum memahami hakikat kehidupan ini, ujian yang datang justru akan menghempasnya
dalam samudra penderitaan yang seolah tiada bertepi. Dalam menghadapi silih
bergantinya kehidupan ini, manusia dibagi menjadi dua.
Pertama, adalah
mereka manusia yang beriman. Dimana mereka senantiasa siap menghadapi ujian
karena sadar bahwa dunia adalah ladang amal. Ujian yang datang bukanlah
dianggap halangan, tapi sebagai sarana untuk memperoleh pahala dari Allah SWT.
Kedua, manusia yang paling tidak siap dalam menghadapi ujian Allah SWT adalah
orang-orang atheis. Mereka tidak mengakui adanya Rabb di dunia ini. Tentu saja
mereka tidak siap, jangankan yakin akan datangnya pertolongan Allah, keberadaan
Allah sebagai pencipta dan penguasa jagad raya pun mereka tidak percaya. Tidak
ada hal yang bisa mereka lakukan selain berputus asa, putus harapan yang
menghantarkan kepada kebinasaan. Naudzubillah
himindalik.
Dalam kehidupan ini hendaknya kita
senantiasa menyiapkan satu wadah kekecewaan dalam hati kita. Sebab tidak
selamanya kehidupan ini berjalan seperti yang kita inginkan. Jendela
‘kekecewaan’ itu setidaknya membuat diri kita lebih siap menghadapi hal-hal
yang tidak kita inginkan.
Jika kita terbiasa mendapatkan
kemudahan dalam banyak hal, bisa jadi ketika kesulitan itu datang kita tidak
siap menghadapinya. Yang jelas optimis itu harus ada, namun sediakan satu celah
untuk melapangkan hati menghadapi hal yang tidak sesuai harapan kita.
Sikap ketika ujian datang
Ketika
ujian, cobaan dan masalah datang menghampiri diri kita, cobalah untuk berdamai
dengannya. Yang dimaksud berdamai disini bukan berarti menyerah dengan keadaan
yang ada, ‘pasrah bengkokan’ orang Jawa bilang. Akan tetapi berdamai disini
adalah mencoba untuk menerima keadaan yang ada sambil terus berikhtiar mencari
jalan keluar terbaik.
Dengan
penerimaan atas kondisi yang menimpa kita setidaknya akan membuat jiwa kita
sedikit tenang, dan dengan ketenangan hati dan kejernihan pikiran akan lebih
memudahkan bagi kita menemukan solusi. Berbeda hal-nya jika kita frontal dalam
menghadapi masalah yang ada, panik kemudian tergesa-gesa. Ibaratnya energinya
sudah habis sebelum berperang, ‘nabung pusing’ dulu, capek dulu padahal solusi
masih jauh panggang dari arang. Bagaimana mungkin kita akan menemukan solusi
masalah, jika pikirannya tidak jernih dan jiwanya mengalami kegoncangan. Pada
akhirnya orang-orang seperti ini cenderung memilih lari dari masalah, pasahal
sikap tersebut justru akan menambah munculnya masalah baru. Mereka tidak mampu
berdamai dengan keadaan, nekat melawan keadaan bukan dengan ilmu tapi dengan
hawa nafsu.
Menerima Keadaan Dengan Syukur
Menerima Keadaan Dengan Syukur
Belajar dari para
shalafusshalih, mereka adalah sebaik-baik teladan sosok manusia yang mampu
berdamai dengan keadaan. Bagi mereka berdamai dengan keadaan dimaknai dengan
mensyukuri apa yang masih mereka miliki. Ketika pun Allah menguji mereka dengan
kekurangan harta, mereka masih bisa bersyukur karena masih diberi kenikmatan
iman serta tubuh yang sehat, sehingga mereka masih tetap bisa beribadah. Ketika
Allah menguji mereka dengan penyakit yang diderita, mereka masih saja menemukan
celah rasa syukur sebab masih diberi nafas untuk berdzikir.
Contoh yang paling nyata adalah apa
yang menimpa ulama besar Ibnu Taimiyyah beliau tidak pernah lelah menghadapi
ujian dalam rangka menyampaikan kebenaran. Suatu ketika penguasa yang dzalim
memenjarakannya, karena tidak menyukai apa yang beliau sampaikan. Apakah
kemudian beliau berputus asa, goyah pendiriannya? Ternyata justru tidak bahkan
semakin lantang menyuarakan kebenaran dari balik jeruji besi. Sajaknya yang
paling terkenal adalah “Apakah yang
diperbuat musuh padaku. Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku. Kemanapun ku
pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku
adalah khalwat. Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah
rekreasi. Beliau pernah berkatan dalam penjara: “Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya,
orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”
Bahkan kemudian dari balik penjara
terlahirlah karya-karya besar beliau, berupa buku aqidah, tafsir dan lainnya.
Artinya penjara tidak pernah menjadi penghalang bagi beliau untuk tetap tegar
menyampaikan kebenaran. Meskipun dipenjara beliau bersyukur masih diberikan
hidup yang dengannya bisa melahirkan banyak karya.
Kesyukuran = Kebahagiaan
Pada hakikatnya
dengan syukur itulah manusia akan menemukan kebahagiaan. Sebab hatinya lapang,
jiwanya tenang sebagai efek dari mampu berdamai dengan keadaan. Banyak orang
yang sibuk mencari hakikat kebahagiaan, tapi setelah mereka memperolehnya,
kebahagiaan itu ternyata semu.











